Detikgayonews| Takengon— Polemik terkait rencana pelaksanaan pacuan kuda tradisional Gayo di tengah kondisi pasca bencana terus bergulir. Di tengah pro dan kontra yang muncul di masyarakat, Ketua Komunitas Kuda Tradisional Gayo akhirnya angkat bicara dan menyatakan dukungannya terhadap Dinas Pariwisata, Jum’at 17/04/26.
Menurutnya, pernyataan Kadis Pariwisata yang sebelumnya menuai kritik tidak seharusnya dipelintir menjadi pemicu konflik sosial. Ia menilai, apa yang disampaikan merupakan bentuk kepedulian terhadap pemulihan ekonomi dan budaya masyarakat Gayo yang terdampak bencana.
“Kami melihat ini bukan sekadar event, tetapi bagian dari identitas dan denyut kehidupan masyarakat Gayo. Pacuan kuda tradisional adalah warisan budaya yang juga menjadi penggerak ekonomi rakyat dan dalam penetapan Anggaran jauh sebelum bencana terjadi,” ujar Irwandi Ketua Komunitas.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan pacuan kuda justru dapat menjadi momentum kebangkitan daerah. Aktivitas ini dinilai mampu menghidupkan kembali sektor UMKM, pariwisata, serta memberikan semangat baru bagi masyarakat yang tengah berusaha bangkit.
Lebih lanjut, ia juga mengimbau semua pihak agar tidak memperkeruh situasi dengan narasi yang dapat memecah belah masyarakat. Menurutnya, diperlukan sikap bijak dan saling memahami dalam menyikapi kondisi saat ini.
“Kita semua tentu sepakat bahwa keselamatan dan pemulihan pasca bencana adalah prioritas. Namun, bukan berarti seluruh aktivitas budaya harus dihentikan. Yang terpenting adalah pelaksanaan yang terukur, aman, dan tetap memperhatikan kondisi masyarakat,” tambahnya.
Ia juga mengajak pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen untuk duduk bersama mencari solusi terbaik, agar pelaksanaan pacuan kuda tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan dan pemulihan.
Polemik ini diharapkan tidak berkepanjangan, melainkan menjadi ruang dialog untuk menemukan titik temu antara kepentingan budaya, ekonomi, dan kondisi sosial masyarakat pasca bencana.













