Detikgayonews.com, Takengon | Hujan deras yang mengguyur Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, selama beberapa hari terakhir mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor.
Hujan tanpa reda yang terjadi selama hampir lima hari terakhir menyebabkan beberapa daerah di Kota Takengon terendam banjir, serta ruas jalan tertimbun longsor hingga dilaporkan ada sembilan warga yang meninggal dunia.
Musibah kali ini, terjadi secara merata hampir di seluruh wilayah Kabupaten Aceh Tengah, bahkan sejumlah akses menuju ke beberapa kecamatan dikabarkan terputus lantaran tertimbun longsor.
Beberapa daerah di pusat Kota Takengon, juga tidak luput dari musibah. Banyak rumah warga yang terendam banjir. Bahkan hingga Rabu (26/11/2025) sore, hujan masih mengguyur sehingga kondisi banjir berpotensi akan terus meluas.
Berdasarkan data yang diterima dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tengah, ada 9 warga yang meninggal dunia, akibat bencana tanah longsor, serta banjir bandang di daerah itu.
Para korban meninggal dunia akibat tanah longsor diantaranya, 3 orang warga Kampung Paya Tumpi Baru, Kecamatan Kebayakan. Selanjutnya 3 warga Kampung Daling, Kecamatan Bebesen.
2 warga Bukit Sama, Kecamatan Kebayakan dan 1 warga Tami Delen, Kecamatan Kebayakan sehingga total korban meninggal dunia sebanyak sembilan orang warga.
Sementara itu, untuk kerugian lain seperti berapa jumlah rumah terendam banjir serta jumlah titik longsoran masih belum terdata lantaran para petugas sedang melakukan evakuasi terhadap para korban.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika kepada Detikgayomews.com, Rabu (26/11/2025), sejak tadi pagi sudah melakukan penanganan, terutana terhadap bencana yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa meninggal dunia.
“Selain itu, kami juga sudah memperbaiki akses utama yang sempat lumpuh karena tertimbun tanah longsor di beberap titik,” kata Andalika.
Menurut Andalika, Pemkab Aceh Tengah, dalam hal ini, BPBD dan Dinas PUPR meminta maaf kepada masyarakat karena belum semua daerah bisa tertangani.
“Dengan keterbatasan alat berat berat sehingga belum semua akses yang lumpuh bisa ditangani, sehingga harus dilakukan secara estafet,” imbuhnya.
Disisi lain, Andalika mengharapkan, agar warga tetap waspada terhadap terjadinya bencana Hedrometereologi dan berhati hati ketika melakukan aktivitas di luar rumah.
“Terutama bagi yang sedang melakukan perjalanan agar menghindari berhenti di titik lokasi terjadinya pohon tumbang dan tanah longsor,” pungkasnya. (Yd).







