Detikgayonews.com, Takengon | Sudah lebih dua pekan musibah bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda kawasan Kabupaten Aceh Tengah.
Namun sampai sejauh ini, belum ada tanda-tanda akses darat mulai terbuka menuju kawasan tengah Provinsi Aceh itu.
Dari hari ke hari, kondisi masyarakat semakin memprihatinkan. Apalagi jika proses perbaikan akses darat membutuhkan waktu lebih lama.
Bahan pokok menghilang dari pasaran. Jika pun ada, harganya melambung tinggi hingga di luar nalar. Khususnya untuk bahan pokok yang dipasok dari luar daerah.
Contohnya, seperti beras, dan lauk lauk, bahkan BBM yang harganya sempat meroket sampai 700 persen lebih.
Sebaliknya, hasil pertanian dari Aceh Tengah, harganya justru anjlok. Seperti cabai merah, harga eceran perkilonya hanya Rp 10 ribu, dan tomat Rp 5 ribu.
“Ikan asin yang biasanya satu ons Rp 7 ribu, sekarang jadi Rp 25 ribu. Itupun susah kita dapatkan,” keluh salah seorang ibu rumah tangga warga Takengon, Hasanah, Jumat (12/12/2025).
Sejak akses menuju Kabupaten Aceh Tengah terputus, pasokan bahan pokok terhenti. Termasuk ikan laut yang biasanya dipasok dari kawasan pesisir Aceh.
“Sejak bencana, lauk untuk makan hanya mengandalkan tempe dan tahu. Harganya juga naik, biasa cuma Rp 5 ribu perkeping, sekarang ada yang jual Rp 10 ribu,” ucapnya.
Hasanah berharap, pemerintah kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat dapat segera mempercepat membuka akses menuju Kabupaten Aceh Tengah sehingga bahan-bahan pokok bisa segera masuk.
“Kami beras juga sudah hampir habis. Pernah dapat bantuan dari desa, beras dua bambu dan minyak goreng setengah liter. tapi cuma bisa bertahan untuk tiga hari,” kata Hasanah.
Mi instan yang biasanya menjadi konsumsi alternatif dan gampang didapat, kini mulai sulit dicari. Begitu juga dengan ikan kemasan seperti sarden, sudah mulai langka.
“Satu-satunya harapan kami sebagai warga Aceh Tengah, akses jalan bisa cepat ditembus, sehingga bahan pokok bisa masuk dan haganya juga bisa kembali stabil,” pungkasnya.
Situasi sulit, bukan hanya dirasakan oleh Hasanah tetapi hampir seluruhan warga Kabupaten Aceh Tengah, terkena dampak dari langkanya bahan pokok karena bencana.
Sudah lebih dua pekan Kabupaten Aceh Tengah terisolir karena akses darat masih terputus. Listrik belum sepenuhnya stabil, bahkan jaringan internet putus total.
Sementara itu, sulitnya mendapatkan BBM, sejumlah warga Kabupaten Aceh Tengah berinisiatif membeli sendiri ke kawasan Aceh Utara dengan berjalan kaki selama beberapa jam.
Mereka menembus kawasan longsor menggotong jerigen berisi BBM untuk kebutuhan pribadi dan sebagian diantaranya dijual.
Pekan lalu, harga pertamax tembus di angka Rp 80 ribu satu liter. Namun dengan ramainya warga yang menjemput sendiri ke Aceh Utara sehingga harganya mulai turun.
Kini, BBM untuk jenis pertamax di Kota Takengon, kisaran harganya Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu satu liter. Itupun masih tetap disebur warga. (Yd).













