Detikgayonews.com, Takengon | Setelah lebih satu bulan, akhirnya Wakil Bupati Muchsin Hasan menyampaikan permintaan maafnya kepada seluruh wartawan, khususnya untuk media lokal di Kabupaten Aceh Tengah.
Permintaan maaf tersebut, disampaikan Muchsin Hasan melalui pers releasenya yang dilayangkan ke sejumlah media online, Selasa (20/1/2026).
Itupun setelah didesak oleh sejumlah awak media yang merasa telah dilecehkan Muchsin Hasan. Dia sempat melontarkan kalimat bernada merendahkan untuk wartawan lokal di Aceh Tengah.
Berdasarkan kesaksian salah seorang wartawan Yusra Effendi, bahwa Wabup Muchsin Hasan pada 1 Desember 2025 lalu, sempat melontarkan kata-kata bernada instruksi kepada stafnya agar tidak memperdulikan wartawan lokal tetapi fokus kepada wartawan nasional.
Ketika itu, suasana baru sepekan diterpa bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor. Para jurnalis mencari akses kesana kemari untuk mengumpulkan data agar bisa disajikan menjadi sebuah berita.
Sayangnya akses wartawan seolah “ditutup” oleh Wabup Muchsin Hasan dari pernyataannya yang akhirnya menimbulkan kegaduhan. Saat itu, wartawan tak langsung merespon lantaran disibukan dengan liputan bencana.
Setelah lebih sebulan, kalimat yang merendahkan profesi kuli tinta itu, masih menancap di kepala para jurnalis lokal yang di klaim beritanya hanya sampai kampung Toweren (salah satu desa di pinggiran Danau Lut Tawar).
Sebagian besar wartawan di Tanoh Gayo geram karena merasa direndahkan dan seakan “terhina”. Apa yang telah dilakukan wartawan lokal selama ini dalam membantu mengabarkan berita-berita pembangunan pupus seketika.
Tidak bisa dipungkiri, jika banyak wartawan bekerja tanpa gaji. Hanya panggilan nurani dan tanggung jawab moral sehingga mereka mau bekerja mencari dan mengumpulkan informasi untuk disajikan kepada publik.
Apalagi di tengah situasi bencana, keberadaan wartawan sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan. Secara teori, wartawan merupakan “The Fourth Estate” atau pilar keempat demokrasi.
Wartawan juga memiliki peran penting dalam pembangunan, walaupun tidak digaji oleh negara untuk menjaga inedependesinya dalam menjalankan salah satu tugas pokok sebagai sosial kontrol.
Berbeda dengan ASN, atau aparat negara, bukan hanya digaji, terkadang cuma “pelesiran” mereka dibayar oleh negara. Mirisnya, salah seorang pejabat negara yang notabene faham, bahkan dibesarkan oleh media lokal justru “tega” melecehkan profesi wartawan.
Tulus atau Sekadar Redam Gejolak
Meski Wabup Muchsin Hasan telah melayangkan permintaan maaf, dan mengakui kesalahannya, namun tidak lantas meredam gejolak di kalangan wartawan yang bertugas di Kabupaten Aceh Tengah.
“Saya atas nama pribadi dan sebagai Wakil Bupati Aceh Tengah menyampaikan permohonan maaf sebesarnya kepada insan pers di Aceh Tengah. Pernyataan yang saya sampaikan itu, tidak tepat dan tidak seharusnya disampaikan,” kata Muchsin Hasan dalam pers releasenya.
Permintaan maaf yang disampaikan oleh Wabup Muchsin Hasan itu, patut untuk ditakar bahkan dicurigai. Ada dua kemungkinan, permintaan yang tulus dari hati nurani atau hanya sekadar meredam gejolak.
Banyak pihak justru menduga permintaan maaf itu, hanya sekadar untuk meredam gejolak. Buktinya, maaf Muchsin Hasan disampaikan hanya melalui pers release yang disebar oleh Kabag Prokopim Setdakab Aceh Tengah, Rahmat Hidayat secara khusus ke beberapa media online, Selasa (20/1/2026).
Kecurigaan hanya untuk meredam gejolak semakin menguat. Pasalnya permohonan maaf yang dilayangkan itu setelah didesak dan waktunya sudah sebulan lebih setelah kejadian. Sejumlah pihak menduga, permohonan maaf itu, tidak tulus dan hanya sekadar formalitas.
Ibarat kata pepatah, “Mulutmu Harimaumu”. Sebagai publik figur, sudah semestinya Wabup Muchsin Hasan menjaga lisan agar tidak berbalik kembali menyerangnya.
Pernyataannya, menorehkan luka yang membekas di kalangan wartawan, khususnya yang bertugas di Kabupaten Aceh Tengah. Luka yang sulit disembuhkan jika hanya melalui beberapa kalimat yang tertulis dibalik pers release.
Alhasil, publik kembali mengungkit bahwa Wabup Muchsin Hasan bisa terpilih pada Pilkada lalu, salah satunya tidak terlepas dari peran media mainstream lokal yang ikut membantu mengabarkan soal sosoknya yang pantas memimpin Aceh Tengah.
Saat Pilkada lalu, ada beberapa media lokal bekerjasama terkait pemberitaan Cabup/Cawabup Haili Yoga-Muchsin Hasan untuk memberitakan tentang visi misi mereka jika terpilih menjadi pemimpin daerah.
Media yang katanya lokal, rela dibayar “receh” dengan rentang waktu kerjasama publikasi hampir tiga bulan. Ironisnya setelah terpilih, Wabup Muchsin Hasan meninggalkan gerbong media lokal dan fokus kepada media nasional.
Rasanya tidak mungkin, jika Muchsin Hasan tidak “ngeh” kalau selama ini yang mengabarkan soal pembangunan Aceh Tengah lebih didominasi oleh media lokal.
Mereka saban hari mengulik berbagai informasi tentang Aceh Tengah. Mulai dari berita-berita bersifat konstruktif, hingga berita kritis. Tujuannya satu, demi kemajuan Aceh Tengah. Bukan hadir saat terjadi bencana saja. (Mahyadi)













