Di Aceh Tengah, Bencana Hidrometeorologi Putuskan Akses ke Banyak Objek Wisata

Teks Foto : Salah satu objek wisata dan homestay Dallof di seputaran Danau Lut Tawar rusak berat diterjang tanah longsor.

*Kunjungan Wisata Jelang Libur Nataru Berpotensi Sepi

Detikgayonews.com, Takengon | Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun ini, diprediksi kunjungan wisata ke Kabupaten Aceh Tengah berpotensi sepi.

Paska bencana hidrometeorologi berupa tanah longsor dan banjir bandang banyak akses menuju objek wisata terputus.

Bahkan beberapa diantaranya tertimbun tanah longsor dan sebagian disapu banjir bandang.

Sektor pariwisata di Kabupaten Aceh Tengah, yang selama ini menjadi primadona di Provinsi Aceh, kini berada dalam kondisi lumpuh total.

Tercatat, sebanyak 59 objek wisata terdampak. 47 diantaranya dalam kondisi rusak berat, 6 rusak sedang dan 6 lagi dilaporkan mengalami rusak ringan.

“Kalau pun ada objek wisata yang rusak ringan, justru akses menuju kesana masih sulit untuk dilalui,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Aceh Tengah, Erwin Pratama kepada Detikgayonews.com, Minggu (21/12/2025).

Bencana hidrometeorologi yang terjadi akhir Nopember 2025 lalu, menimbulkan curah hujan dengan intensitas tinggi sehingga memicu terjadinya tanah longsor dan banjir bandang.

Akibatnya, akses menuju kawasan wisata Danau Lut Tawar tertimbun material tanah dan bebatuan besar hingga menutup badan jalan membuat akses sempat terputus total.

Destinasi wisata yang ada di seputaran Danau Lut Tawar hampir sebagian besar menjadi lumpuh. Bukan saja karena aksesnya tetapi beberapa diantaranya lenyap setelah tertimbun tanah longsor.

Termasuk sejumlah fasilitas pendukung wisata seperti dermaga kecil, penginapan (homestay), dan kafe di pinggir danau mengalami kerusakan parah akibat bencana itu.

“Kalau melihat kondisi saat ini, kunjungan wisata pada libur akhir tahun ini, akan sangat menurun. Bukan hanya menuju objek wisata, akses antar kabupaten saja belum normal,” kata Erwin Pratama.

Lumpuhnya sektor pariwisata ini memberikan pukulan telak bagi ekonomi lokal. Mulai dari pedagang kuliner, pengelola objek wisata, hingga penyedia jasa transportasi yang berpotensi kehilangan pendapatan utama mereka.

“Pemerintah daerah melalui BPBD dan dinas terkait tengah berupaya melakukan pembersihan material longsor menggunakan alat berat. Bersama kita bangun kembali Tanoh Gayo “Pulihmi ko Tanoh Gayo,” pungkas Erwin Pratama. (Yd)

Exit mobile version