Polemik di Internal RSU Datu Beru Berpotensi Mengikis Kepercayaan Publik 

Detikgayonews.com, Takengon | Sebagian besar masyarakat Kabupaten Aceh Tengah kini dilanda dilema dalam mendapatkan pelayanan kesehatan terutama di RSU Datu Beru, Takengon.

Rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah ini, beberapa tahun terakhir berada dalam pusaran masalah. Aksi mogok para Tenaga Kesehatan (Nakes) terjadi berulang.

Polemik internal memicu kegusaran publik. Warga kini dibayangi keraguan untuk mengakses pengobatan di sana. Sementara pilihan merujuk ke fasilitas kesehatan lain terkendala oleh tingginya biaya.

Kemarin, para Tenaga Kesehatan (Nakes) paruh waktu RSU Datu Beru kembali melakukan aksi mogok lantaran diduga ada hak para Nakes yang belum dibayarkan oleh pihak management rumah sakit.

Kisruh di RSU Datu Beru seakan sudah menjadi tontonan berseri bagi publik. Berikut deretan masalah yang terjadi dirumah sakit itu selama beberapa tahun terakhir.

Masalah yang melilit berujung pada aksi mogok. Persoalan itu, diantaranya mulai dari soal rekruitmen P3K, gaji tenaga paruh waktu, hingga pembagian Jasa Medis (JM).

Deretan masalah itu, akhirnya menggerus kepercayaan publik terhadap pelayanan kesehatan di rumah sakit itu. Warga ragu, apakah akan mendapat pelayanan kesehatan secara baik, atau sebaliknya.

Namun masyarakat tidak memiliki pilihan lain. Mereka hanya berharap agar Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dapat segera membenahi management rumah sakit yang sering “sakit”.

“Mau tidak mau, kita harus berobat ke rumah sakit itu. Tidak ada alternatif lain. Kalau mau berobat ke luar kota, butuh biaya lebih besar,” kata Edi salah seorang warga Takengon kepada Detikgayonews.com.

Edi berharap, agar pemerintah dapat mensterilkan RSU Datu Beru dari kepentingan-kepentingan kelompok yang berorientasi pada jabatan, serta profit yang terkadang bisa menimbulkan gejolak.

“Kalau sudah terjadi kisruh sampai mogok kerja, yang sayang kan pasiennya. Sudah saatnya, pemerintah fokus pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan dirumah sakit itu. Jangan biarkan dililit masalah terus menerus,” harap Edi.

Merespon gejolak yang terjadi, Pemkab Aceh Tengah melakukan serangkaian upaya. Termasuk, Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, telah menyidak RSU Datu Beru serta merapatkan jajaran manajemen rumah sakit. “Alhamdullilah, semua sudah baik,” kata Muchsin Hasan, Selasa (27/1/2026).

Bukan hanya pemerintah daerah, pihak legislatif juga ikut menyahuti persoalan tersebut, dengan memanggil jajaran RSU Datu Beru, untuk merangkum persoalan apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit kebanggan warga Aceh Tengah itu.

Masyarakat berharap, respon Pemkab Aceh Tengah dan lembaga DPRK menyelesaikan dalam persoalan yang melilit RSU Datu Beru Takengon, bukan hanya bersifat temporer serta formalitas.

Melainkan bisa ditangani secara serius agar pelayanan kesehatan di rumah sakit itu memang benar-benar bisa diandalkan serta menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat, tanpa adanya polemik baru. (Yd).

 

Exit mobile version