Detikgayonews.com, Takengon | Beberapa kegiatan kolektif untuk peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Aceh Tengah yang menggunakan anggaran dari dana desa masih menjadi sorotan publik.
Pasalnya, serangkaian kegiatan yang telah dilakukan dinilai belum memberikan dampak positif tetapi dugaan upaya pengembosan dana desa masih terus dilakukan dengan dalih peningkatan SDM.
Bahkan fenomena potensi penyelewengan dana desa ini, justru dilakukan secara “bermain cantik” dengan memanfaatkan celah regulasi yang ada.
Jika dihitung secara angka perdesa, memang nilai yang digelontorkan tidak terlalu besar, tetapi kalau diakumulasi, jumlahnya bisa mencapai angka miliaran rupiah untuk satu kegiatan.
Program dana desa yang digelontorkan pemerintah sejak 2015, memiliki tujuan utama untuk pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di tingkat desa.
Namun dibalik upaya mulia ini, muncul dugaan adanya praktik “santun” dalam menggerogoti dana desa dengan cara menggelar berbagai kegiatan yang bertajuk peningkatan SDM.
Disisi lain, beberapa kalangan masyarakat menilai, bahwa hal itu wajar dilakukan lantaran telah memiliki dasar hukum. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah kegiatan tersebut, efektif dan memberikan dampak positif.
Meski publik telah berulang kali menyoroti serangkaian kegiatan yang didanai dari dana desa, namun sampai saat ini, hal itu masih tetap saja dilakukan.
Ibarat kata pepatah, “Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu”. Maknanya, tidak perduli walau dikritik dan kegiatan tersebut tetap berlanjut.
Adapun serangkaian kegiatan yang pernah disorot publik, diantaranya pelatihan life skill, pengadaan buku dan teranyar pelatihan Linmas yang sempat diprotes para peserta pelatihan.
Dugaan praktik ini tidak berhenti sampai disitu walau mendapat banyak sorotan. Bahkan muncul lagi wacana akan ada pelatihan life skill menggunakan dana patungan dari uang desa.
Kegiatan tersebut, akan diselenggarakan oleh Lembaga Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Daerah (LPKPD) Bogor, berdasarkan surat nomor: 004/PEMDES-LPKPD/X/2025 tentang undangan pelatihan/life skills.
Untuk kegiatan pelatihan ini, dikabarkan setiap desa dipatok biaya Rp 13 juta dan jadwal awal akan dilaksanakan pada 20 hingga 24 Oktober 2025 di Portola Grand Hotel Renggali dan Grand Hotel Bayu Hill Takengon.
Namun jadwal kegiatan tersebut diundur. “Masih menunggu info dari desa desa, makanya jadwal pelaksanaanya diundur. Dan ini lagi perencanaan ulang,” kata Ketua Forum Reje Aceh Tengah, Wahid melalui pesan singkat Whatsapp, Rabu (22/10/2025).
Dari serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan, banyak pihak mensinyalir bahwa program tersebut, hanya menjadi ladang bisnis oknum tertentu dan tidak berdampak langsung pada kemajuan dan kemaslahatan masyarakat desa. (Yd).
