Detikgayonews.com |Takengon – Ridho, seorang pengamat dan pemerhati budaya yang aktif mendampingi wilayah terdampak bencana, menegaskan bahwa identitas budaya adalah fondasi terkuat bagi masyarakat untuk bangkit.
Menurut Ridho, banyak tokoh muda di daerah bencana kini mulai menyadari bahwa seni pertunjukan, dan kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan alat penyembuhan trauma yang efektif.
”Bencana seringkali memutus hubungan manusia dengan tanahnya. Saat rumah hancur, yang tersisa adalah ingatan kolektif. Tokoh muda yang bergerak di bidang budaya dapat membantu merajut kembali ingatan tersebut agar masyarakat tidak kehilangan jati diri,” ujar Ridho saat ditemui di sela-sela kegiatannya, Kamis (2/4/2024).
Meski semangat ini tumbuh subur, Ridho tidak menampik adanya kendala. Dukungan pemerintah yang masih berfokus pada angka-angka ekonomi seringkali mengesampingkan anggaran untuk aktivitas kebudayaan di wilayah bencana.
”Kita butuh lebih banyak tokoh muda yang berani bersuara bahwa membangun kembali pasar atau jembatan itu penting, tapi membangun kembali mentalitas dan kebanggaan warga melalui budaya adalah kunci keberlanjutan,” tambah Ridho.
”Budaya itu cair, ia bisa menyesuaikan diri. Di tangan anak muda yang tepat, budaya pasca-bencana akan menjadi bahan bakar untuk bangkit, bukan sekadar kenangan yang terkubur runtuhan,” pungkasnya.
