26 Desa di Aceh Tengah Masih Terisolir, Didominasi Akibat Jembatan Terputus 

Teks Foto Warga di salah satu lokasi bencana di Kabupaten Aceh Tengah menggunakan sling untuk sarana pengubung antar desa.

Detikgayonews.com, Takengon | Sebanyak 26 desa di sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah sampai dengan saat ini, masih terisolir walaupun bencana hidrometeorologi telah berlalu satu bulan lebih.

Akses menuju puluhan desa itu, belum bisa ditembus karena kondisi kerusakanya yang cukup parah lantaran rata-rata jembatan penghubung antar desa maupun antar kecamatan hanyut digerus air bah.

Kepala Pelaksana (Kalaks,) Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Andalika, Kamis (8/1/2026) mengatakan, dari 26 desa yang masih terisolir, rata-rata disebabkan karena jembatan penghubungnya terputus.

“Ada juga desa yang terisolir bukan karena jembatanya terputus, tetapi karena titik longsoran yang begitu panjang sehingga tidak bisa dalam waktu cepat untuk untuk dibuka kembali aksesnya,” kata Andalika.

Menurut Andalika, untuk membuka kembali akses menuju sejumlah kampung yang masih terisolir tidak memungkinkan jika harus dibuat jembatan darurat karena kondisi lebar sungai mencapai 100 meter.

“Tidak bisa kalau pakai jembatan darurat karena sungainya lebar. Jalan satu-satunya, kita tunggu pembuatan jembatan gantung yang telah diprogramkan oleh pihak TNI/Polri,” tutur Andalika.

Adapun desa-desa yang masih terisolir diantaranya di Kecamatan Bintang, Kampung Serule, Atu Payung dan Jamur Konyel. Di Kecamatan Ketol, Kampung Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Serempah, Bah, Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang dan Desa Burlah.

Sedangkan di Kecamatan Silih Nara, Kampung Terang Engon dan Dusun Gantung Langit, Kampung Bius Utama. Untuk Kecamatan Rusip Antara, yaitu Desa Pilar Jaya, Pilar Weh Kiri, Tirmiara, Mekar Ayu, dan Kampung Arul Pertik.

Terakhir di Kecamatan Linge, diantaranya Kampung Linge, Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Penarun dan Desa Umang.

“Pemerintah daerah terus berupaya agar desa-desa yang masih terisolir ini, aksesnya bisa segera ditembus. Hanya saja memang pembuatan jembatan penghubung yang tidak bisa dikerjakan dalam waktu cepat,” imbuh Andalika.

Ketika disinggung soal logisitik berupa kebutuhan pokok bagi warga yang masih terisolir, Andalika mengungkapkan bahwa untuk kebutuhan pokok masyarakat, seperti beras dan lain-lain diperkirakan cukup.

“Selain dari pemerintah, para relawan juga banyak yang sudah memasok logistik ke daerah-daerah yang masih terisolir. Apa yang sudah dilakukan para relawan ini, sangat luat biasa,” pungkas Andalika. (Yd)

Exit mobile version