Detikgayonews.com, Takengon | Bandar Udara (Bandara) Rembele yang berada di Kabupaten Bener Meriah, selain menjadi terminal untuk transportasi udara juga sebagai sarana dalam mitigasi bencana.
Menurut catatan sejarah, Bandara Rembele awalnya diwacanakan oleh Bupati Aceh Tengah, Beni Banta Cut, dilanjutkan oleh Bupati Drs Buchari Isaq dan direalisasikan secara fisik oleh Bupati Drs. M. Tamy.
Pada tahun 2001 awal pembangun rancangan jangka panjang bandara Rembele ini difungsikan untuk pesawat kargo yang dapat didarati pesawat boeing 737 series dengan panjang landasan 45 x 2.500 meter namun dalam realisanya baru dapat didarati pesawat CN 235.
Beberapa tahun kemudian, dampak gempa bumi yang melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah pada tahun 2013 profosal pembangun Bandara Rembele diarahkan menjadi bandara mitigasi bencana.
Dengan alasan teknis posisi geografis kedua kabupaten di Dataran Tinggi Gayo (DTG) ini, terletak pada daerah rawan gempa dan wilyah pegunungan yang sangat rawan terhadap bencana sehingga jika terjadi bencana bandara akan berfungsi sebagai bandara mitigasi bencana.
Saat itu, profosal pembangunan Bandara Rembele diserahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) oleh Bupati Bener Meriah yang kala itu, dijabat oleh Ir. Ruslan Abd Gani Dipl HE.
Penyerahan proposal dilakukan saat Presiden SBY mengunjungi kawasan Kecamatan Ketol paska bencana gempa bumi melanda.
Alhasil, pada tahun 2014 dan 2015 dikucurkan dana untuk mendukung pembangunan pendaratan pesawat Boeing 737 series dan pesawat Hercules yang hasil pembangunnya diresmikan oleh presiden Jokowi Widodo pada maret 2016.
Kini Provinsi Aceh kembali berduka tak terkecuali Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah yang terdampak akibat banjir, banjir bandang dan tanah longsor sehingga transportasi darat terputus.
Satu-satunya transportasi yang dapat diandalkan adalah transportasi udara. Bukan hanya sebagai sarana transportasi namun menjadi bandara untuk mitigasi bencana.
Menurut Koordinator TPKOD UPBU Rembele, Ari Firmana beberapa waktu lalu, dalam keterangannya di media menyebutkan, bahwa hari ke 9 paska bencana Bandara Rembele melayani penerbangan tidak kurang dari 15 – 20 pesawat per hari, bahkan lebih.
Penerbangan dimaksud, dengan berbagai tipe pesawat meliputi pesawat kargo 2 – 3 kali sehari, Boeing 737 milik Rimbun Air, Trigana Air dan Air Indonesia yang diterbangkan langsung dari Jakarta.
Pesawat tersebut, ada yang membawa logistik bahan pokok dan pulangnya membawa komodoti lokal cabai untuk dipasarkan di Jakarta sehingga dapat membantu petani lokal di saat bencana.
Selain itu pesawat Hercules CN 295, Cassa milik TNI juga membawa logistik mencapai 5-6 penerbangan perhari dan pulangnya membawa penumpang secara gratis terutama penduduk luar kabupaten yang mau pulang ke kampung halaman tujuan Medan dan Banda Aceh.
Pesawat penumpang charter flight Wings Air dan Susi Air mencapai 10 flight per hari, pesawat BNPB, helikopter dan pesawat pribadi lainya dalam rangka mengantar bantuan.
Selain itu, Ari Firmana mengatakan akan berupaya melayani penerbangan semaksimal mungkin walau dalam kondisi darurat banyak kekurangan dan tetap mengajak masyarakat untuk dapat menggunakan bandara secara optimal namun tetap mematuhi aturan Keselamatan penerbangan sesuai ketentuan. (*)
